Sosial Budaya Studi Agama

PUASA DAN MEDIA SOSIAL

OLEH: FAISAL SALEH

Orang yang berpuasa di era sekarang menghadapi tantangan tersendiri agar kualitas pahalanya tidak kurang nilainya di hadapan Allah SWT. Tantangan dimaksud tidak luput di seputar perbuatan ghibah, hoaks dan konten-konten negatif.  Ghibah atau menggunjing adalah membicarakan keburukan atau kekurangan orang lain tanpa sepengetahuannya. Bisa jadi yang disampaikan adalah benar adanya, namun tetap tidak dibenarkan. Berdosa karena dapat merusak hubungan silaturahmi. Dapat menimbulkan fitnah dan dapat meyebarkan kebencian. Di era digital sekarang ghibah tidak hanya dalam bentuk percakapan langsung, tetapi terjadi di media sosial. Contohnya bisa dengan menyebarkan aib orang lain. Mengunggah cerita-cerita buruk orang tanpa sepengetahuannya. Bisa juga dalam bentuk komentar negatif, mengomentari penampilan atau gaya hidup dengan maksud merendahkan. Membagikan berita di group tanpa terverifikasi kebenarannya yang akhirnya berujung pada fitnah. Perbuatan ghibah intinya dapat merusak nama baik orang lain dan saat berpuasa akan merusak kualitas nilai puasa seseorang.

Menahan diri dari tidak makan dan minum dan segala yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari merupakan defenisi yang sudah disepakati ulama. Namun di era digital ada perbuatan trend  yang disebut “hoaks”. Hoaks di media sosial adalah adanya informasi yang salah bahkan menyesatkan yang disebarkan dengan sengaja maupun tidak sengaja. Penyebarannya dapat malalui platform digital seperti Facebook, Twitter, Intagram, WhatsApp dan lainnya. Bentuknya bisa berupa teks, gambar atau video yang bertujuan menipu atau manipulasi opini publik. Ciri-ciri hoaks di media sosial bisa dilihat dengan judul sensasional. Biasanya menggunakan kata-kata provokatif seperti “heboh,” “bocor,” atau kata “fakta mengejutkan”. Berita hoaks sumbernya tidak jelas dari mana berasal. Apakah berita tersebut kredibel atau tidak. Berita hoaks juga dapat dengan memanipulasi gambar atau video. Gambar atau video yang telah diedit atau dengan cara gambar dan video tersebut diambil dari kejadian lama dan dikaitkan dengan peristiwa baru. Intinya praktek hoaks mengakibatkan kerugian bagi individu, nama baik seseorang dan mungkin pada instansi. Berita hoaks menyebarkan kebencian dan perpecahan. Bagi mereka yang berpuasa dan melakukn praktek hoaks dapat dipastikan akan mengurangi kualitas puasanya.

Apek lain yang tidak kalah pentingnya diperhatikan saat berpuasa di era media sosial adalah maraknya pembuatan dan penyebaran konten-konten negatif. Menurut defenisi Kementerian Komunikasi dan Digital RI, konten negatif adalah konten yang melanggar norma kesusilaan, melanggar hukum dan merugikan orang lain. Bisa berupa gambar porno, perjudian penipuan, pelecehan bahkan pencemaran nama baik orang. Konten negatif di media sosial memiliki keterkaitan penting dengan puasa karena berhubungan dengan bagaimana menjaga kebersihan hati dan perilaku yang baik selama menjalankan ibadah puasa. Bagi mereka yang berpuasa, menahan diri bukan hanya menahan lapar dan haus tetapi sekali lagi termasuk menahan diri dari hal-hal yang bisa mengurangi pahala puasa bahkan mungkin membatalkannya. Orang yang menghina atau berkomentar buruk misalnya di media soal termasuk perbuatan dosa karena dapat menyakiti orang lain. Menonton atau membagikan konten yang tidak pantas akan merusak ibadah, merusak hati. Termasuk terlibat dalam perdebatan yang tidak bermanfaat akan memancing emosi dan mengarah pada ujaran kebencian. Selama bepuasa, semaksimal mungkin menghindari melihat konten negatif apalagi ikut menyebarkannya. Kita yang harusnya mengisi media sosial dengan konten-konten dakwah dan motivasi.

Tiga praktek buruk tersebut di atas, yaitu ghibah, hoak dan konten-konten negatif di media sosial apalagi dilakukan di bulan Ramadhan dipastikan akan mencoreng kulitas ibadah puasa. Maka diperlukan kearifan dan kebijaksanaan agar kita terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Caranya agar memverifikasi segala hal informasi sebelum dikomentari dan dibagikan kepada orang lain. Fokus pada hal-hal positif saja dan jadikan media kebaikan. Kritis pada berita-berita yang beredar di sekitar kita. Baiknya orang-orang baik yang mengambil inisiatif untuk mengisi konten-konten di media sosial hari ini. Jangan biarkan orang yang kurang bertanggung jawab mendominasi berita dan konten-konten di media sosial. Sebab dominasi berita dan konten negatif dari mereka akan mempengaruhi mindset kita dan berakibat pada kulitas puasa kita sendiri. Pesannya, jangan sampai terjadi apa yang disabdakan Nabi SAW, “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain hanya lapar dan haus”. Semoga tidak. Ramadhan Mubarak. (*)

*) Dr. H. Faisal Saleh, M.HI

Direktur Program Pascasarjana IAIN Fattahul Muluk Papua.

Sentani, 2 Maret 2025

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *