Oleh: Dr. Zulihi, M.Ag *)
Peristiwa Isra’ Mi‘raj merupakan salah satu kejadian paling monumental dalam sejarah Islam yang sarat dengan dimensi teologis, spiritual, dan sosial. Isra’ Mi‘raj tidak hanya memperlihatkan kemahakuasaan Allah SWT melalui perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha, tetapi juga menegaskan kedudukan manusia sebagai makhluk spiritual yang memiliki tanggung jawab moral dalam kehidupan.
Secara teologis, Isra’ Mi‘raj merupakan mukjizat yang menegaskan hubungan vertikal (Hablun Minallāh) antara manusia dan Allah SWT. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Isra ayat 1, yang menegaskan bahwa perjalanan tersebut merupakan kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Puncak dari peristiwa Mi‘raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu, yang menunjukkan bahwa shalat merupakan inti ajaran Islam dan sarana utama pembentukan spiritualitas individu. Dengan demikian, Isra’ Mi‘raj menjadi fondasi teologis bagi pembinaan keimanan, ketaatan, dan disiplin spiritual umat Islam.
Diera digital, umat Islam menghadapi tantangan baru berupa percepatan arus teknologi dan banjir informasi, serta perubahan pola interaksi dalam kehidupan sosial manusia. Oleh karena itu, diperlukan kontekstualisasi nilai-nilai Isra’ Mi‘raj agar pesan yang terkandung di dalamnya tetap relevan dan aplikatif dalam kehidupan modern sekarang ini, khususnya dalam membangun etika, spiritualitas, dan kesadaran sosial umat Islam di tengah perkembangan teknologi dan informasi diera digital. Adapun nilai-nilai fundamental dalam peristiwa Isra’ Mi’raj adalah
Pertama, Peristiwa Isra’ Mi‘raj mengandung nilai-nilai spiritualitas yang relevan dengan konteks zaman era digital. Shalat, sebagai hasil utama peristiwa ini, menekankan pentingnya kedekatan spiritualitas umat Islam dengan Allah SWT dan mengajarkan kedisiplinan waktu, ketundukan, dan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Dalam era digital inilah, shalat berfungsi sebagai media penyeimbang (spiritual equilibrium) yang mengajak umat Islam untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk digital dan merefleksikan makna hidup. Kontekstualisasi nilai-nilai spiritualitas Israk Mi‘raj dalam era digital tersebut dapat di wujudkan melalui beberapa cara, antara lain:((1) Menggunakan teknologi untuk meningkatkan spiritualitas; Umat Islam dapat menggunakan teknologi untuk meningkatkan spiritualitas, seperti menggunakan aplikasi shalat, membaca Al-Quran digital, atau mengikuti kajian online. (2) Mengatur waktu untuk peningkatan spiritualitas, seperti melakukan shalat tepat waktu, berdzikir, atau bermeditasi. (3) Merefleksikan makna hidup.
Dalam konteks ini umat Islam harus merefleksikan makna hidup dan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupannya, serta meningkatkan kesadaran akan tujuan hidup yang sebenarnya. Dengan demikian, kontekstualisasi nilai-nilai spiritualitas Israk Mi‘raj dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan mempromosikan kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna.
Kedua, Peristiwa Isra’ Mi‘raj mengandung nilai-nilai keilmuan dan kesadaran intelektual yang relevan dengan konteks era digital. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam Isra’ Mi‘raj merupakan bagian dari contoh bagaimana ilmu pengetahuan dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang kebesaran Allah SWT. Dalam era digital, akses ilmu pengetahuan sangat luas, namun seringkali tidak diiringi dengan kedalaman makna. Untuk itu, kontekstualisasi nilai-nilai keilmuan dan kesadaran intelektual Isra’ Mi‘raj dalam era digital dapat diwujudkan melalui beberapa cara, yaitu:(1) Mengintegrasikan ilmu dengan hikmah dan akhlak. Umat Islam harus memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak hanya sekadar akumulasi informasi, tetapi juga diiringi dengan pemahaman yang mendalam dan aplikasi yang baik dalam kehidupan sehari-hari. (2) Mencari kebenaran dan kebesaran Allah.
Umat Islam harus selalu mencari kebenaran dan kebesaran Allah dalam setiap ilmu pengetahuan yang diperoleh, serta meningkatkan kesadaran tentang keterbatasan ilmu manusia sehiungga tidak menjadi takabbur terhadap kelebihan yang dimilikinya. (3) Menggunakan ilmu untuk kebaikan. Umat Islam harus menggunakan ilmu pengetahuan untuk kebaikan maupun kemaslahatan umat manusia, serta mempromosikan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Dengan demikian, kontekstualisasi nilai-nilai keilmuan dan kesadaran intelektual Isra’ Mi‘raj dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kesadaran intelektualitas dan mempromosikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.
Ketiga, Peristiwa Isra’ Mi‘raj mengandung nilai-nilai etika dan akhlak yang relevan dengan konteks era digital. Rasulullah SAW, sebagai teladan utama umat Islam, menunjukkan integritas moral yang tinggi dalam kejujuran, amanah, dan tanggungjawab. Nilai-nilai inilah yang dapat diaplikasikan dalam konteks era digital untuk membangun etika digital yang sehat. Kontekstualisasi nilai-nilai etika dan akhlak dalam peristiwa Isra’ Mi‘raj di era digital dapat diwujudkan melalui beberapa cara, antara lain: (1) Integritas kejujuran dalam menyampaikan dan menyebarkan informasi. Umat Islam harus memastikan bahwa informasi yang di disampaikan dan disebarkan adalah benar dan akurat dan terpercaya serta tidak menyebarkan hoaks atau informasi palsu. (2) Menjauhi hoaks dan ujaran kebencian terhadap umat lain. Umat Islam harus menjauhi penyebaran hoaks dan ujaran kebencian, serta mempromosikan toleransi dan keramahan serta kedamaian dalam berinteraksi di era digital. (3) Menggunakan media digital secara bertanggung jawab.
Umat Islam harus menggunakan media digital secara bertanggung jawab, yaitu dengan tidak menyebarkan konten yang tidak pantas, tidak menghormati privasi orang lain, dan tidak melakukan tindakan cyberbullying. Dengan demikian, kontekstualisasi nilai-nilai etika dan akhlak dalam peristiwa Isra’ Mi‘raj dapat menjadi strategi efektif untuk membangun etika digital yang sehat dan mempromosikan masyarakat digital yang kearah lebih baik.
Keempat, Peristiwa Israk Mi‘raj mengandung nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang relevan dengan konteks era digital. Shalat, sebagai salah satu aspek penting dalam Isra’ Mi‘raj, memiliki implikasi sosial yang kuat, yaitu mencegah perbuatan keji dan mungkar serta membentuk kepedulian terhadap sesama manusia. Dalam era digital, umat Islam dituntut untuk menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dan kemaslahatan seperti berempati, solidaritas, dan kepedulian sosial melalui pemanfaatan teknologi secara konstruktif.
Kontekstualisasi nilai-nilai sosial dan kemanusiaan dalam Isra’ Mi‘raj dalam era digital dapat diwujudkan melalui beberapa cara, yaitu: (1) Pemanfaatan teknologi untuk kebaikan dan kemaslahatan sosial. Umat Islam dapat menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan kesadaran sosial, mempromosikan kegiatan sosial, dan membantu mereka yang membutuhkan. (2) Membangun komunitas digital yang inklusif. Umat Islam dapat membangun komunitas digital yang inklusif dan ramah, di mana semua orang dapat berpartisipasi dan berbagi pengalaman. (3) Mengedukasi masyarakat tentang etika digital. Umat Islam dapat mengedukasi masyarakat tentang etika digital, seperti menghormati privasi orang lain, menghindari penyebaran informasi palsu, dan mempromosikan toleransi dan moderasi. Dengan demikian, kontekstualisasi nilai-nilai sosial dan kemanusiaan dalam peristiwa Israk Mi‘raj dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kesadaran sosial dan kemanusiaan umat Islam dalam era digital.
Simpulan. Isra Mi‘raj merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang tidak hanya menjadi mukjizat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai pedoman hidup bagi umat Islam. Dalam era digital, kontekstualisasi nilai-nilai dalam peristiwa Isra’ Mi‘raj menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga relevansi ajaran Islam dengan perkembangan zaman. Nilai-nilai Isra’ Mi‘raj seperti keseimbangan antara kemajuan teknologi dan spiritualitas, integritas moral, dan kepedulian sosial harus diimplementasikan secara kontekstual agar umat Islam dapat menjadi subjek aktif dalam peradaban digital tanpa kehilangan identitas keislaman dan kemanusiaannya.
Dengan demikian, kontekstualisasi nilai-nilai Isra’ Mi‘raj dapat menjadi strategi efektif untuk menjaga keselarasan antara ajaran Islam dan perkembangan zaman, serta meningkatkan peran umat Islam dalam membangun peradaban digital yang lebih baik.
Wallhu A’lam Bisshowab
Penulis: Dr. Zulihi, S.Ag., MAg.Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN FM Papua




